Minggu, 01 Oktober 2023

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Pembebas Buta Huruf

 

                                                     Sumber Foto : Abdi Purnomo

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dan banyaknya masyarakat yang tak sekolah berdampak negative dan buta huruf merupakan salah satu faktor yang menghambat kualitas sumber daya manusia. Salah satu hal mendasar yang harus dipenuhi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah pemberantasan buta huruf (tidak pandai membaca dan menulis) di kalangan masyarakat. Tujuan dari kegiatan pengabdiaan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan aksara (membaca dan menulis) seluruh masyarakat Indonesia.

Penuntasan buta huruf menjadi salah satu fokus program pemerintah, alangkahnya indahnya jika banyak penerus bangsa yang ikut mendukung bahkan membantu program pemerintah dalam penuntasan buta huruf. Salah satunya seorang pria yang berasal dari Malang Jawa Timur, Eko Cahyono. Sudah 26 tahun sejak 1997, Eko menyediakan layanan perpustakaan keliling yang menjangkau seluruh kecamatan di Kabupaten Malang. Tujuannya mengawal keberadaan Pustaka Anak Bangsa, sangat sederhana tapi mulia. Masih ada anak-anak yang tidak sekolah, memicu semangatnya untuk membuat mereka bisa membaca dan menulis.

Perpustakaan Anak Bangsa yang Eko dirikan tersebar di beberapa desa di tujuh kecamatan se-Kabupaten Malang antara lain Poncokusumo, Tumpang, Wates, Kepanjen. Tak hanya ada peluang membaca koleksi ribuan bukunya, di Perpustakaan yang didirikannya ini terdapat kegiatan lain seperti belajar komputer, melukis di kanvas, menonton film bareng, belajar memasak, menjahit, diskusi setiap Sabtu malam, hingga menanam obat-obatan  tradisional. Bahkan terdapat bimbingan belajar bagi pelajar SD atau madrasah Ibtidayah secara gratis. Cakupannya pun makin luas dengan menggelar perpustakaan keliling di pos ojek, salon, bengkel motor, rental komputer, dan lain-lain. Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) yang ia dirikan beralamat di Jalan Ahmad Yani, RT 24/RW 07, Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro, sangat dekat dengan rumah orangtuanya—berselang tiga rumah.

Buta huruf yang dialami oleh anak-anak di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan literasi bagi generasi penerus masih menjadi pekerjaan rumah utama bagi Indonesia. Dalam lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran penting untuk memberikan stimulus atau pendidikan bagi anak untuk dapat membaca. Stimulus ini dapat diberikan sesuai kesiapan anak untuk menerima pelajaran dari orangtua. Selain keluarga, akses pada layanan pendidikan dasar juga turut memengaruhi tingkat literasi pada anak. Akses layanan pendidikan dapat berupa fasilitas pendidikan yang dekat dengan permukiman. Dalam cakupan yang lebih luas, juga diperlukan ekosistem yang dapat membantu orang tua dalam memenuhi fasilitas pendidikan bagi anak.

Eko Cahyono salah satu generasi bangsa yang membantu menuntaskan buta huruf, salah satu langkah Eko dengan menyediakan layanan perpustakaan keliling dan Perpustakaan Anak Bangsa (PAB), memicu semangat anak-anak buta huruf yang tidak sekolah, akhirnya dapat membaca dan menulis. Semoga banyak generasi bangsa yang dapat meneruskan langkah Eko dan membantu Pemerintah untuk menuntaskan buta huruf di Indonesia. Sebagai penulis, langkah yang Eko lakukan juga telah saya lakukan, walau tak sehebat Eko. Saya juga mendirikan Rumah Baca, perpustakaan GRATIS yang bertempat di rumah saya pribadi yang saya dirikan sejak 2014. 

  

Sumber foto : https://www.batikimono.com/

Tahun 2007 menjadi kenangan paling dramatis. Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) yang Eko dirikan nyaris tutup. Ia kehabisan uang untuk memperpanjang kontrak dan nyaris digusur oleh sang pemilik rumah. Seorang warga berbaik hati meminjamkan sebidang tanah dekat kebun singkong dan kuburan di Jalan Brawijaya. Eko bekerja serabutan untuk menghidupi Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Ia sering mendapat penghasilan dari kerja menjaga stand pameran di ajang book fair. 

Keikhlasan Eko berbuah manis. Publikasi tentang dirinya bersama Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) bermunculan hingga akhirnya ia diundang tampil di acara talkshow terkenal di Metro TV, Kick Andy, pada 2009. Yayasan Kick Andy membantu Rp 70 juta untuk pembangunan gedung Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) dengan syarat Eko harus mendapatkan tanahnya. Gratis, inilah kelebihan Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Semua orang boleh menjadi anggota Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) tanpa dipungut biaya sepeser pun dan tak perlu menunjukkan kartu identitas. 

Kebaikan Eko menular ke desa-desa lain. Ia membuka pojok-pojok baca dan perpustakaan di desa lain. Pojok-pojok baca misalnya dibuka di salon, pangkalan ojek, dan warung. Tiap minggu koleksi bacaan diganti. Ia pula yang ikut membantu memasok buku-buku ke perpustakaan kampung di desa lain baik yang berasal dari sumbangan atau kelebihan koleksi di Perpustakaan Anak Bangsa (PAB).

Ayo generasi bangsa, tunjukkan pada bangsa jika kalian juga mampu seperti langkah Eko yang membantu pemerintah dalam "Pembebas Buta Huruf". Langkah dan tindakan yang telah Eko lakukan merupakan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Pembebas Buta Huruf". Generasi bangsa jangan tanyakan apa yang bisa Negara berikan pada kita, tapi tunjukkan apa yang bisa kita berikan pada Negara. 

Salam Literasi

 

Sumber tulisan :

https://www.satu-indonesia.com

https://www.batikimono.com

Kisah Nyata Saya Tak Mengejar Langit


Puluhan tahun menjalani hidup, ternyata banyak terjalnya jalan yang menghadang. Manusia berencana, tapi Allah yang menentukan. Perjalanan pendidikan dan karir yang saya lalu, benar-benar di luar rencana. Allah berkehendak lain, tapi banyak hikmah di dalamnya. Efiy kecil bercita-cita menjadi POLWAN, ketika SMA berubah ingin menjadi JAKSA. Efiy remaja saat itu sambil kuliah bekerja menjadi Penyiar dan Reporter Radio di Bandung. Orang tua sebenarnya mampu membiayai saya saat kuliah, walaupun saya tak bekerja. Tapi jiwa mandiri saya bergejolak, saya ingin mendapatkan banyak pengalaman berharga saat menjadi Penyiar dan Reporter Radio. Bahagianya gaji pertama saya menjadi Penyiar Radio pada Tahun 1999 itu sebesar 120.000; kalau zaman dulu, uang sebesar itu sangat besar, apalagi 1 Dollar pada saat itu Rp 2.500,-

Saya lulus kuliah menjadi Sarjana dalam waktu 4 tahun, dan beberapa kali mendapat beasiswa. Waktu kuliah mendapat beasiswa, senangnya bukan main dan uang tersebut digunakan untuk keperluan yang bermanfaat. dan setelah wisuda dari Fakultas Hukum Universitas Pasundan Bandung pada Tahun  dan ketika lulus kuliah dari Fakultas Hukum, dua kali ikut tes Kejaksaan gagal. Akhirnya saya berputar haluan, sambil menjalani pekerjaan sebagai Penyiar dan Reporter Radio, saya ikut melamar ke berbagai Bank dan Perusahaan Swasta di Jakarta. Pada akhir tahun 2004, saya mendapat panggilan untuk tes kerja salah satu Bank di Jakarta, luar bisa tesnya berkali-kali, dari psikotes, tes komputer, tes kesehatan dan wawancara dua kali (Total ada kira-kira 8 kali tes), dan alhamdulillah semua rangkaian tes saya lulus dan akhirnya di training selama 3 bulan. Selama training, banyak ilmu yang di dapat dan ada juga 1 teman yang tak lulus training. Saya mulai bekerja di awal Januari 2005.

Saya bekerja dengan penuh semangat, dari pagi hingga sore bahkan kalau lembur dari pagi hingga malam. Gaji yang dimiliki cukup besar untuk karyawan swasta saat ini, benar-benar saya menikmatinya...sering hang out bareng teman-teman, bisa membelikan banyak makanan buat orang tua, bisa ajak jalan-jalan adik dan setiap hari bisa menikmati makanan lezat dengan hasil jerih payah sendiri. Tapi saya yang waktu itu, tak pernah memikirkan sulitnya mendapatkan uang, gaji tiap bulan habis terus tak bersisa. Entahlah selama kerja di Bank, saya tak bisa membeli barang berharga atau memiliki tabungan...padahal gaji bisa dibilang besar.

Beberapa tahun saya kerja di Bank, akhirnya saya harus resign, karena saya harus mengikuti suami ke Garut - Jawa Barat. Rasanya sedih sekali, meninggalkan Kota Metropolitan dimana saya bisa menghasilkan gaji besar yang dapat memenuhi kebutuhan hidup saya dan bahkan gaji yang saya miliki, saya bisa menyenangkan adik dan orang tua. 

Petualangan baru di mulai, saya hanya menjadi Ibu rumah tangga, tinggal di sebuah perkampungan dan saya tak mengenal banyak orang di sana. Rasanya hati teriris sedih, menangis tiada henti karena meninggalkan karir dan penghasilan yang cukup besar. Selama beberapa bulan, saya belum bisa menerima takdir, hancur tak terkira, dunia seakan kelam.

Setelah menikah selama 2 tahun, akhirnya  saya dikarunia anak perempuan...bayi kecil ini membuat saya bahagia, saya tersadar...takdr menentukan saya untuk menjadi seorang Ibu. Luar biasa perjalanan hidup yang saya alami, lewat operasi caesar, yang sebelumnya di induksi terlebih dahulu, saya merasakan sakit luar biasa, sakit yang mengingatkan saya akan orang tua...sakit yang mengingatkan saya semua hal yang saya jalani dalam hidup....Allah saya pasrah....saya tak bisa berkata apa-apa. Tapi kehadiran Fira, membuat saya tersadar dan dapat menjalani hidup dengan ikhlas.

Fira balita, saya berkreasi dengan banyak kegiatan via media sosial, Masya Allah luar bisa dari ikut lomba-lomba di Media Sosial saat Fira balita, saya mendapatkan hadiah HP yang bisa dibilang belasan dan 1 HP termahal saat itu seharga 11 Juta, Logam Mulia dan Emas total belasan gram, voucher belanja puluhan juta, uang tunai jutaan, sepeda 2 buah, makanan hingga produk elektronik yang begitu banyak dan bahkan ada yang belum dipakai hingga saat ini.

Akhirnya saat Fira masuk SD, saya melamar menjadi Guru di sebuah sekolah swasta SMA di Limbangan Garut, saya tak berhenti berkreasi, dari lomba-lomba di media sosial juga saya mendapatkan hadiah 5 orang jalan-jalan gratis ke Jogjakarta, waktu itu ajak Kakek dan nenek Fira, bayangkan ke Jogjakarta beberapa kali PP naik pesawat, bahkan saya bisa berkunjung ke Surabaya, ke Bali dan semua GRATIS. Allah Maha Baik, saya bisa 12 kali PP naik pesawat GRATIS, makan GRATIS, menginap di Hotel GRATIS dan bahkan bisa dapat uang saku. 

Allah Maha Baik, Tahun 2011 saya dan suami  bisa membangun rumah dan Tahun 2018 kami bisa mendirikan Sekolah PAUD. Tak disangka Allah begitu baik,saya mendapatkan hadiah sepeda motor GRATIS bahkan hingga hadiah UMROH GRATIS untuk 2 orang. Tahun 2020 saya dan suami sudah siap untuk berangkat UMROH, Pasport sudah punya, pakaian dll sudah siap 90% siap tinggal uang saku. Tapi pandemi COVID 19 datang, keberangkatan UMROH kami yang harusnya dilaksanakan tanggal 23 Maret 2020 dibatalkan, dan akhirnya diuangkan pada Agustus 2020 sebesar Rp 70.000.000,- 

Saya menerima keputusan Allah, mungkin ini yang terbaik, atas saran seorang teman....saya pahami dalam-dalam dan saya renungi dan akhirnya uang hadiah UMROH tersebut akhirnya saya daftarkan Rukun Islam yang ke 5 pada Oktober 2020. Insya Allah kami akan berangkat pada Tahun 2038. Semoga Allah panjangkan usia kami, berkahi usia kami dan kelak cita-cita kami menunaikan Ibadah Haji ke Baitullah menjadi kenyataan....aamiin.

Saya juga tak pernah menyerah untuk menuntut ilmu, hingga akhirnya saya wisuda kedua kali pada Maret 2023 dan mendapat gelar Efiy Sukaesih, S.H., S.Pd. Rasa syukur tak terhingga atas segala kesempatan untuk kuliah yang kedua kali, karunia dan rizki yang telah Allah berikan pada keluarga kami, sungguh rasa syukur itu selalu ada dalam diri. Walau saya hanya Guru Yayasan, bukan ASN atau PPPK, tapi apa yang sudah kami cita-citakan sebagian terwujud. Banyak cita dan asa yang memang belum terwujud, semoga Allah kabulkan doa-doa orang tua saya untuk saya, dan saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya.  Allah panjangkan usia kami, berkahi kami dan wujudkan segala asa dan cita-cita kami....aamiin Ya Allah 🤲🏻🤲🏻🤲🏻

Semoga kisah saya ini dapat menginspirasi...percayalah tak ada yang tak mungkin jika Alllah berkehendak....MasyaAllah,Allah Maha Baik 🤲🏻