Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dan banyaknya masyarakat yang tak sekolah berdampak negative dan buta huruf merupakan salah satu faktor yang menghambat kualitas sumber daya manusia. Salah satu hal mendasar yang harus dipenuhi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah pemberantasan buta huruf (tidak pandai membaca dan menulis) di kalangan masyarakat. Tujuan dari kegiatan pengabdiaan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan aksara (membaca dan menulis) seluruh masyarakat Indonesia.
Penuntasan buta huruf
menjadi salah satu fokus program pemerintah, alangkahnya indahnya jika banyak
penerus bangsa yang ikut mendukung bahkan membantu program pemerintah dalam
penuntasan buta huruf. Salah satunya seorang pria yang berasal dari Malang Jawa
Timur, Eko Cahyono. Sudah 26 tahun sejak 1997, Eko menyediakan layanan
perpustakaan keliling yang menjangkau seluruh kecamatan di Kabupaten Malang.
Tujuannya mengawal keberadaan Pustaka Anak Bangsa, sangat sederhana tapi mulia.
Masih ada anak-anak yang tidak sekolah, memicu semangatnya untuk membuat mereka
bisa membaca dan menulis.
Perpustakaan Anak Bangsa
yang Eko dirikan tersebar di beberapa desa di tujuh kecamatan se-Kabupaten
Malang antara lain Poncokusumo, Tumpang, Wates, Kepanjen. Tak hanya ada peluang
membaca koleksi ribuan bukunya, di Perpustakaan yang didirikannya ini terdapat
kegiatan lain seperti belajar komputer, melukis di kanvas, menonton film
bareng, belajar memasak, menjahit, diskusi setiap Sabtu malam, hingga menanam
obat-obatan tradisional. Bahkan terdapat bimbingan belajar bagi pelajar
SD atau madrasah Ibtidayah secara gratis. Cakupannya pun makin luas dengan
menggelar perpustakaan keliling di pos ojek, salon, bengkel motor, rental
komputer, dan lain-lain. Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) yang ia dirikan
beralamat di Jalan Ahmad Yani, RT 24/RW 07, Dusun Karangrejo, Desa Sukopuro,
sangat dekat dengan rumah orangtuanya—berselang tiga rumah.
Buta huruf yang dialami
oleh anak-anak di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan literasi bagi generasi
penerus masih menjadi pekerjaan rumah utama bagi Indonesia. Dalam
lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran penting untuk memberikan stimulus
atau pendidikan bagi anak untuk dapat membaca. Stimulus ini dapat diberikan
sesuai kesiapan anak untuk menerima pelajaran dari orangtua. Selain keluarga,
akses pada layanan pendidikan dasar juga turut memengaruhi tingkat literasi
pada anak. Akses layanan pendidikan dapat berupa fasilitas pendidikan yang
dekat dengan permukiman. Dalam cakupan yang lebih luas, juga diperlukan
ekosistem yang dapat membantu orang tua dalam memenuhi fasilitas pendidikan
bagi anak.
Eko Cahyono salah satu
generasi bangsa yang membantu menuntaskan buta huruf, salah satu langkah Eko
dengan menyediakan layanan perpustakaan keliling dan Perpustakaan Anak
Bangsa (PAB), memicu semangat anak-anak buta huruf yang tidak sekolah,
akhirnya dapat membaca dan menulis. Semoga banyak generasi bangsa yang dapat
meneruskan langkah Eko dan membantu Pemerintah untuk menuntaskan buta huruf di
Indonesia. Sebagai penulis, langkah yang Eko lakukan juga telah saya lakukan,
walau tak sehebat Eko. Saya juga mendirikan Rumah Baca, perpustakaan GRATIS
yang bertempat di rumah saya pribadi yang saya dirikan sejak 2014.
Tahun 2007 menjadi
kenangan paling dramatis. Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) yang Eko dirikan
nyaris tutup. Ia kehabisan uang untuk memperpanjang kontrak dan nyaris digusur
oleh sang pemilik rumah. Seorang warga berbaik hati meminjamkan sebidang
tanah dekat kebun singkong dan kuburan di Jalan Brawijaya. Eko bekerja
serabutan untuk menghidupi Perpustakaan Anak Bangsa (PAB). Ia sering mendapat
penghasilan dari kerja menjaga stand pameran di ajang book fair.
Keikhlasan Eko berbuah
manis. Publikasi tentang dirinya bersama Perpustakaan Anak Bangsa
(PAB) bermunculan hingga akhirnya ia diundang tampil di acara talkshow terkenal
di Metro TV, Kick Andy, pada 2009. Yayasan Kick Andy membantu Rp 70 juta untuk
pembangunan gedung Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) dengan syarat Eko
harus mendapatkan tanahnya. Gratis, inilah kelebihan Perpustakaan Anak
Bangsa (PAB). Semua orang boleh menjadi anggota Perpustakaan Anak Bangsa (PAB)
tanpa dipungut biaya sepeser pun dan tak perlu menunjukkan kartu
identitas.
Kebaikan Eko menular ke
desa-desa lain. Ia membuka pojok-pojok baca dan perpustakaan di desa lain.
Pojok-pojok baca misalnya dibuka di salon, pangkalan ojek, dan warung. Tiap
minggu koleksi bacaan diganti. Ia pula yang ikut membantu memasok buku-buku ke
perpustakaan kampung di desa lain baik yang berasal dari sumbangan atau
kelebihan koleksi di Perpustakaan Anak Bangsa (PAB).
Ayo generasi bangsa,
tunjukkan pada bangsa jika kalian juga mampu seperti langkah Eko yang membantu
pemerintah dalam "Pembebas Buta Huruf". Langkah dan tindakan yang
telah Eko lakukan merupakan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Pembebas Buta
Huruf". Generasi bangsa jangan tanyakan apa yang bisa Negara berikan pada
kita, tapi tunjukkan apa yang bisa kita berikan pada Negara.
Salam
Literasi